Growth with Character! (Kalteng Pos, Rabu, 3 Maret 2010)
Aku mulai mengikuti series tulisan dari Ahli Marketing Hermawan Kertajaya dari episode 42. Episode sebelumnya belum pernah kubaca. Berikut tulisannya yang dimuat di Kalteng Pos.
Definisi "Orang Besar Menurut Tan Siong Pik"Pengalaman saya berorganisasi sejak remaja sangat membantu dalam mengelola Markplus Professional Service, terutama pada saat awal. Papa saya yang pegawai negeri selalu menjadi contoh bagaimana dia suka beraktivitas sosial. Kami merupakan keluarga sederhana yang tinggal di kampung Kapasari, Gang Lima, Surabaya.
Waktu masa kecil saya juga disitu. Bahkan, sampai melahirkan Michael, anak pertama, saya masih di kampung itu. Di Kampung, kami hidup sangat harmonis. Kalau Idul Fitri, orang-orang Tionghoa mengirimkan kue kering sambil mengucapkan selamat. Sebaliknya, waktu Imlek, para tetangga muslim mengirimkan kue basah kepada kami.
Sejak kecil, saya selalu didoktrin oleh Papa saya bahwa saya adalah orang Tionghoa, tapi warga negara Indonesia, bukan warga negara Tiongkok. Juga sudah biasa mendengar suara azan karena ada langgar di kampung saya. Saya biasa aktif ikut kerja bakti dan jaga malam di kampung, karena Papa saya aktif disitu.
Selain itu, Papa saya juga bendahara pengurus Sekolah Taruna Harapan atau T.N.H, yang akhirnya berubah menjadi Sasana Bhakti. Papa saya juga waktu mudanya pernah juara pingpong seluruh Indonesia, waktu bat pemukulnya masih dari kayu! Terinspirasi oleh aktivitas Papa saya di organisasi sosial dan olahraga itulah, saya jadi suka mengurus organisasi sosial.
Papa saya pernah mengatakan suatu kalimat yang tidak pernah saya lupakan sampai sekarang. "Orang besar itu bukan diukur berapa duitnya di kala hidup, tapi dilihat dari berapa orang yang mau mengikuti mobil jenazahnya, walaupun dia gak punya duit!"
Karena itu, selain pernah menjadi Kepala SMP Sasana Bhakti pada usia belum genap 20 tahun, saya juga menjadi ketua Sasana Bhakti cabang Tenis Meja. Bahkan, pernah jadi Ketua PTMSI (Persatuan Tenis Meja Seluruh Indonesia) Cabang Surabaya dan akhirnya sekretaris PTMSI Jawa Timur. Di Kampung Kapasari, saya pun mendirikan klub pingpong yang bertanding melawan kampung-kampung lain.
Hal-hal itulah yang akhirnya membawa saya ikut aktif di Indonesia Managers Club atau IMC Cabang Surabaya.Saya akhirnya juga ikut mendirikan Asosiasi Manajer (AMA) Indonesia Pusat. Di pusat, saya menjabat wakil ketua dan di Surabaya saya menjadi ketua.
Di Jakarta, saya mengajak Handi Irawan Djuwardi yang waktu itu masih sebagai konsultan saya untuk aktif di AMA Indonesia Pusat. Sedangkan di AMA Surabaya, saya mengajak rekan saya, Pak Kresnayana Yahya. Belakangan, keduanya menjadi ketua, baik di Jakarta maupun Surabaya.
Saya sendiri lantas lebih aktif untuk membentuk Indonesia Marketing Association (IMA). Ada dua pertimbangan untuk itu. Pertama, IMA hanya fokus pada marketing, sejalan dengan MarkPlus. Kedua, jalur internasionalnya jelas. Yaitu ke Asia Pacific Marketing Federation (APMF) dan World Marketing Federation (WMF), namanya waktu itu. *(to be continued)
No comments:
Post a Comment